seberapa sering topik tentang 'kematian' melintas di pikiran kita? sebelum hari ini, gw bisa meyakinkan diri gw sendiri bahwa gw adalah orang yang tidak takut menghadapi kematian. maksudnya, gw yakin kalo hari itu datang dan maut itu menjemput gw, gw gak akan takut karena gw ngerasa siap gak siap itu sesuatu yang tidak bisa ditebak dan dihindari. tapi hari ini i have done some thinking about death and life after death. my biggest question today was "how it feels to be a dead body?". gimana rasanya mati, gimana rasanya dikubur, dan masih banyak pertanyaan lagi.
gw masih ingat, beberapa waktu yang lalu ada seorang kenalan yang mengirimkan sebuah film dokumentasi pendek tentang tradisi kuno suku di pedalaman titik-titik (isi sendiri nama daerahnya, gw takut dipenjara..LOL) yang menguburkan bayi hidup2 apabila bayi tersebut dipercayai membawa kutukan dari sejak dia dilahirkan (which i believe there's no such thing). kepala suku (atau orang yang dituakan n dihormati) akan mendatangi rumah tempat bayi pembawa kutuk itu, merebut bayi itu dari pelukan ibunya, dan menyuruh beberapa orang desa menggali kuburan untuk bayi tersebut. lalu bayi itu dilempar ke dalam lubang kubur, dan ditimbun dengan tanah. bayi yang tidak berdaya itu diakhiri hidupnya tanpa ada daya untuk melawan, dikubur dalam keadaan menangis, hingga lambat laun jeritan tangisnya tenggelam dalam kelamnya malam. semua itu terjadi (hanya) karena satu orang, satu manusia yang ditakuti dan dianggap kepala suku, yang membuat keputusan berdasarkan tradisi dari nenek moyang plus pikiran manusia-nya yang tidak sempurna, yang mengakibatkan hilangnya satu nyawa seorang mahluk ciptaan Tuhan. i mean, what the heck. jujur aja, awalnya nonton film dokumentari ini gw bergidik dan sedikit mengecam para pembuat film ini. kok tega merekonstruksi ulang semua kejadian laknat ini? tapi gw sadar, film ini ada maksud mulia. untuk menggerakkan hati setiap manusia bahwa tradisi nonsense seperti ini has to stop. Tuhan yang menciptakan manusia, Dia pulalah yang berhak atas nyawa ciptaan-Nya. bukan sesama manusia, bukan kepala suku.
lalu, ada satu lagi ada film true story tentang tradisi di suatu negara pada jaman dulu, dimana kalau ada seorang suami yang meninggal dunia, maka sang istri harus dibakar hidup2 agar jiwa mereka berdua (sepasang suami istri ini) kembali bersatu di kehidupan selanjutnya. di film tersebut, digambarkan seorang suami meninggal dunia karena mengidap suatu penyakit, lalu ditemukan warga. gemparlah satu daerah itu, dan warga berboyong2 mencari istri dari si suami yang meninggal itu. setelah ketemu, sang istri diikatkan kepada sebuah kayu dengan posisi terlentang, lalu kayu tersebut digotong, disirami minyak tanah dan dibakar. again, hidup2. hingga suatu saat seorang misionaris datang ke daerah itu dan berjuang untuk menghapuskan tradisi tersebut.
balik lagi ke rasa penasaran gw. setiap datang ke acara pemakaman, gw selalu menyimpan 2 jenis perasaan. yang pertama adalah rasa tidak nyaman. entah kenapa gw gak tahan dan berusaha sebisa mungkin menghindari berbagai macam proses pemakaman. bukan jenazah yang membuat gw risih, tapi keadaan bahwa 95% (yang 5% sisanya sibuk makan kacang konsumsi khas kalo melayat orang meninggal) orang menangis tersedu2 tersedak2 terpingsan2 itu yang membuat gw gak nyaman. gw tahu itu reaksi yang wajar, namanya juga orang yang kita sayangi meninggalkan kita untuk selama2nya, pasti kalo kejadian sama gw, gw juga akan melakukan hal yang moreless sama. but still, i just can't stand that.
yang kedua, adalah rasa penasaran. gw pernah membisikkan sebuah pertanyaan ke telinga nenek gw (dari bokap) pada saat dia meninggal dunia. gw tanya, "gimana sih rasanya meninggal?". tentu aja nenek gw gak jawab, kalo jawab sih yang ada gw langsung diangkut ke UGD. nenek gw meninggal karena sakit, tapi gw penasaran apakah orang yang meninggal karena sakit dan orang yang meninggal karena dibunuh/kecelakaan/hal2 yang kurang normal lainnya itu merasakan hal yang sama? really exactly the same? trus kalau yang dikubur hidup2 atau "dipaksa" mati dalam keadaan sadar itu gimana rasanya? seperti korban musibah terowongan mina, atau titanic, atau tawanan pesawat di tragedi 9/11? kalo orang sakit kan beda, kadang2 mereka emang ada yang keadaannya udah kritis banget, atau udah sakit dari lama, atau koma, atau jantung yang bisa tiba2 gak ada angin gak ada ujan tau2 "lewat". nah, kalo misalnya titanic, di detik2 kapal mewah itu menabrak gunung es, dan perlahan2 tenggelam. beberapa memang berhasil diselamatkan. tapi ada juga yang ikut tenggelam bersama kapal tersebut. gimana rasanya ketika kita tahu bahwa masa hidup kita di dunia ini dihitung? pasti setiap detik terasa begitu berharga. gw belum mau mati sekarang, tapi gw penasaran banget pengen tahu bagaimana rasanya mau mati (dan pada akhirnya mati), bagaimana rasanya jadi orang2 itu. seperti tenggelam bersama kapal, begitu air mencapai dagu, lalu menutupi saluran pernapasan kita, lalu kita megap2 kehabisan napas tapi gak berdaya untuk naik ke permukaan. lalu apa? apakah kita akan nangis sampe semua itu tiba2 menjadi hitam dan tahu2 kita sudah ada di kehidupan selanjutnya?
lalu apakah surga itu benar2 bercahaya, penuh dengan malaikat yang memainkan alat musik surgawi? apakah warnanya putih? apakah yang ada hanya senyuman dan tidak ada lagi ratap tangis?
apakah neraka itu berwarna merah dan panas membara? apakah setan itu kemana2 bawa trident? apakah neraka itu penuh siksa dan jeritan yang menyayat hati?
and now, i am not sure i am a person i was before today. despite of all my curiosities, i don't think i am that brave. in the end, i just wanna know what and how it feels to be dead (both concious or unconcious). if only i have a small chance to feel it (even if the chance is as small as a zit) without being "real dead", i will take my shot. some may think i am crazy, but that is a risk i am willing to take.
abis baca postingan ini, pasti banyak yang bakalan mikir gw mau bunuh diri. heaven NO! sekali lagi, gw cuma penasaran. tapi rasa penasarannya untuk sementara dihentikan sampai sini dulu, soalnya masih banyak hal2 yang harus diselesaikan.
but hey, kalo ada yang tau gimana rasanya, feel free to tell me :D